artikel-tambang

Monday, August 16, 2004

EDITORIAL: Polemik Merkurium di Teluk Buyat <5 Agust 2004>

DUA minggu sudah kasus Teluk Buyat mencuat. Dan, dua minggu pula kasus itu tetap menjadi misteri, Misteri, karena tidak ada pihak yang mengaku sebagai penyebabnya. Ini penyakit lama negeri kita. Terlalu sulit menemukan si biang kerok, walaupun sebenarnya bisa sangat gampang, kalau mau.

Bermula dari temuan sebuah LSM terhadap beberapa penduduk Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara yang menderita penyakit kulit dan benjol. Mereka dibawa ke Jakarta untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan memperlihatkan terdapat kandungan merkurium dalam darah yang melampaui ambang batas.

Opini publik lalu menuding PT Newmont Minahasa Raya sebagai biang kerok. Perusahaan tambang emas yang telah beroperasi di daerah itu, memang membuang limbah ke Teluk Buyat.

Akan tetapi, pihak Newmont membantah keras. Perusahaan asal Amerika Serikat yang akan hengkang tahun depan dari lokasi itu karena kandungan emas sudah ludes, menuding penambang liar yang adalah rakyat setempat sebagai penyebabnya.

Tuding-menuding lalu menjadi persoalan utama. Polemik semakin ramai ketika Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim masuk dalam pertengkaran. Menurut Makarim, air laut Teluk Buyat tidak mengandung merkurium. Dengan demikian, ikan-ikan yang ditangkap dan dikonsumsi nelayan sekitar juga aman dari merkurium.

Di tengah ramainya lempar-melempar tudingan itu, datang lagi, kemarin, 11 warga Buyat dengan penyakit yang sama. Mereka mengadu ke kepolisian dan menjalani pemeriksaan darah. Hasil pemeriksaan belum juga keluar. Tetapi, mereka telah menangis di depan publik karena menganggap dirinya mengidap penyakit minamata. Penyakit yang dalam jangka panjang menimbulkan kematian.

Orang yang sakit dari Teluk Buyat terus mengalir, tetapi di tingkat pengambil keputusan terus berpolemik. Apalagi Nabiel Makarim masih berkutat pada pendiriannya bahwa kandungan merkurium di laut sekitar Teluk Buyat, menurut penelitian laboratorium, masih di bawah baku mutu. Dus aman.

Kalau demikian, apa dong penyebab penyakit yang meresahkan warga Buyat? Apakah betul PT Newmont tidak menjadi biang kerok? Tentu pertanyaan ini tidak bisa dijawab asal-asalan. Betul atau tidak harus dijawab melalui penelitian terhadap bagaimana perusahaan ini mengelola limbahnya.

Kalau Nabiel curiga orang-orang yang datang ke Jakarta direkayasa, seharusnya bisa ditempuh dengan melakukan pemeriksaan darah massal, kalau bisa semua penduduk yang menghuni Teluk Buyat. Dari pemeriksaan semacam ini bisa diketahui mereka berbohong atau tidak.

Dalam dunia yang semakin canggih dewasa ini seharusnya tidak lagi orang bertengkar tentang alat ukur. Kadar merkurium di Teluk Buyat pasti bisa diukur. Alangkah naifnya kita kalau untuk menjawab apakah kadar merkurium di tempat itu sudah di atas ambang baku atau tidak, tetap tidak mampu. Jawaban terhadap persoalan ini akan gampang bila uji kadar dilakukan oleh lembaga profesional dan independen.

Bila jawaban terhadap persoalan ini diucapkan berkali-kali oleh seorang pejabat negara dan kalangan LSM yang terus berpolemik, maka publik dengan mudah bisa menuduh bahwa ada kepentingan tertentu di benak orang-orang yang menuduh dan membantah itu.

Celakanya, Pak Nabiel Makarim lebih sibuk berpolemik daripada menemukan segera penyebabnya. Nyawa rakyat Buyat tidak diselamatkan oleh polemik, tetapi oleh tindakan penyelamatan segera. Sekali lagi...segera...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home