artikel-tambang

Monday, August 16, 2004

Editorial: Pencemaran Teluk Buyat dan Inferioritas Kita <2 Agust 2004>

DEBAT logika penguasa versus logika publik tentang Teluk Buyat mungkin akan panjang. Entah siapa yang keluar sebagai pemenang. Sebab, kasus pencemaran teluk di Sulawesi Utara yang diduga karena limbah industri PT Newmont Minahasa Raya itu, telah menjadi persoalan hukum.

Masyarakat Teluk Buyat yang menjadi korban pencemaran limbah industri, dengan LBH Kesehatan Jakarta telah menggugat PT Newmont Minahasa Raya.

Dalam berkas gugatannya, mereka mencantumkan hasil penelitian Markus T Lasut dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Samratulangi Manado, yang membuktikan lingkungan bawah laut Teluk Buyat tercemar merkurium karena industri penambangan emas. Dan, itu berasal dari PT Newmont.

Tidak hanya itu. masyarakat Pantai Buyat juga mengadukan tiga menteri, yakni Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim, Menteri Kesehatan Achmad Sujudi, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, kepada polisi. Mereka dianggap melakukan kebohongan publik, karena dengan kompak membantah pencemaran di Teluk Buyat oleh PT Newmont. Menurut orang-orang penting itu, limbah PT Newmont tidak mencemari Teluk Buyat.

Tetapi, apa pun penyelesaiannya, kasus Teluk Buyat kian membuktikan kegetiran sebuah bangsa yang mengidap inferioritas. PT Newmont Minahasa Raya yang didirikan pada 1996, adalah perusahaan emas milik Amerika Serikat. Tidak heran, selain pihak PT Newmont, yang tidak kalah sibuk menangkis tudingan miring masyarakat Buyat, juga para menteri Republik Indonesia.

Yang lebih menyakitkan, dengan alasan telah terkena pencemaran, Amerika Serikat kini menolak ratusan ton ikan cakalang asal Sulawesi Utara. (i>Media Indonesia

, Minggu, 2/8), Padahal, selain para menteri, pihak PT Newmont sendiri berkali-kali menolak perusahaannya mencemari laut Buyat.

Tetapi, penolakan ikan Sulawesi Utara oleh Amerika Serikat, justru berarti pengakuan adanya pencemaran dari negeri itu sendiri.

Menurut Ketua DPD Gabungan Pengusaha Indonesia Sulawesi Utara Fenny Wurangian, ikan yang ditolak Amerika Serikat berjumlah 200 ton. Ikan-ikan yang ditolak negeri Paman Sam ini kemudian dilempar ke pasar di Jawa. Ini artinya, jika benar ada pencemaran, justru yang dikorbankan bangsa sendiri.

Ini juga cermin betapa rendahnya perlindungan kita sesama anak bangsa. Penolakan ekspor ikan oleh Amerika Serikat, juga membuktikan, Amerika Serikat negara kapitalis dengan berbagai paradoks yang lengkap. Setelah mengeruk keuntungan dengan merusak lingkungan negeri orang, dengan mudah menolak ikan yang telah ia cemarkan itu. Mereka yang merusak, mereka juga yang menolak.

PT Newmont tentu tidak mewakili pemerintah Amerika Serikat, tetapi apa pun ini watak sebuah bangsa dengan kehendak tinggi melakukan hegemoni atas siapa pun. Karena itu, kebenaran bagi Amerika menjadi amat nisbi. Terlalu banyak negara yang telah menjadi 'korban' Amerika.

Tetapi, di atas semua itu, ini memang kebodohan kita sendiri. Bangsa yang para pemimpinnya belum sembuh mengidap penyakit inferioritas. Dan, ini amat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Sebab, rakyat selalu dikorbankan jika menghadapi kepentingan asing.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home